Selasa, 20 Juli 2010

PERGESERAN PERANG KONVENSIONAL

Dengan semakin berkembangnya teknologi, dunia perang ataupun sebuah lini pertempuran konvensional akan bergeser kepada lini peperangan atau pertempuran alternatif konvensional seperti perang informasi serta aksi teror.

Didalam perang konvensional, yang digunakan mesin mesin perangnya serta perlengkapan prajurit serta dukungan logistik. Di era perang informasi, bombardir- bombardi informasi akan membuat image yang dapat tertanam dikawasan lawan dan melemahkan posisi moril lawan. Tehnik-tehnik semacam ini sering kita istilahkan sebagai informasi imperalisme dalam strategi perang informasi.



Kita bukan mengingat mas lalu atas kekalahan Indonesia kepada Timor- Timur yang sekarang menjadi negara Timor Leste, minimal hal ini sebagai pembelajaran buat negara kita agar tidak menjadi keledai yang masuk dalam lubang yang sama beberapa kali. Dulunya Xanana pernah mendekam di dalam penjara, Cipinang, Jakarta sekarang menjadi perdana menteri yang sebelumnya menjadi Presiden Timor Leste. Kalau kita mempunyai rasa malu, pastinya sebagai warga negara Indonesia pasti merasa malu atau dipermalukan. Sebelum Timor Leste Merdeka, dalam waktu yang cukup lama negara Indonesia di bombardir informasi yang pada dasarnya membuat image bahwa Indonesia adalah tidak lebih daripada sebuah negara penjajah di Timor Timur.


Kalau melihat pengalaman tersebut, tehnik counter will dalam perang informasi banyak dimainkan secara cantik dan mulus oleh pihak barat melalui berbagai media massa, termasuk berbagai Web Site Internet yang menyebarkan propaganda secara sangat effisien ke semua orang yang bisa akses informasi. Disinilah, Presiden Indonesia saat itu Habibi salah perhitungan dan berani mengambil keputusan dengan melakukan jajak pendapat bagi rakyat Timor Timur dan bukannya jajak pendapat secara Nasional.


Di negara Indonesia, mungkin akan terjadi pada hal yang sama dengan kasus lepas Timor Timur dengan secara mudah terjadi di beberapa wilayah seperti Papua, Aceh dan lain-lainnya. Hal semacam ini, hanya mungkin akan dimenangkan jika dari pihak tertekan dapat memainkan perananannya secara cantik dan mulus di dunia informasi dengan mengandalkan permainan image.

Sementara seorang pemikir Cina, ‘SunTsu”, dalam bukunya The Art of War menuliskan, tidak ada yang istimewa dalam memenangkan ratusan pertempuran di dalam ratusan medan perang. Tetapi, mengalahkan musuh tanpa melepaskan peluru dan bersimbah darah itu baru istimewa. Hanya segelintir manusia yang mampu melakukan hal ini dengan baik. Hal yang sama dikatakan ahli strategi perang, Napoleon Bonapate, dirinya tidak takut dengan ribuan mesin perang melainkan yang ditakutkan hanyalah sebuah pena.


Strategi dibidang perang informasi, kini telah mulai dimainkan oleh negara-negara maju seperti Amerika, negara barat, Cina dan Jepang. Perang informasi yang mereka lakukan lebih bersifat psychological warfare (perang psychologi). Yang dapat berlangsung beberapa tahun sebelum perang fisik dilakukan dan inipun jika dibutuhkan, dan jika ternyata musuh dapat dikalahkan tanpa perang fisik maka segera menghindar dari terjadinya perang fisik. Cukup dengan psychological warfare.


Di era globalisasi, peluang perang informasi sangat terbuka lebar, intinya hanya mereka yang mampu memproduksi informasi serta pengetahuan dalam jumlah yang mewadahi di segala media dengan demikian akan mudah mengalahkan pihak lawan. Perang konvensional, invansi, penjajahan,dan serangan secara fisik kini tidak lagi digunakan, melainkan secara pcichologi, sudut pandang, mental dan lain-lain.


Contoh yang sederhana misalnya, anak-anak Indonesia akan mudah mengenal dan bangga bila makan di Mc Donald, KFC atau mendengarkan musik import dibandingkan dengan makan nasi pecel dan mendengarkan musik jaipong, gamelan atau musik dangdut. Anak baru gede (ABG) lebih senang menonton konsernya Madona dibandingkan menonton konsernya Ikke Nurjanah. Dari contoh sederhana ini saja sudah terlihat sekali bahwa sebuah image sudah tertanam baik baik di benak anak anak indonesia secara evolusi.


Kalau kita mau belajar pengusaan seni perang informasi yang sangat halus melalui cuplikan surat dari James Madison yang ditujukan kepada Barry pada Agustus 1822 berbunyi, pengetahuan dan penyebaran informasi menjadi penting sekali bagi seseorang maupun pemerintah untuk survive, menang dan tetap berada diatas serta populer diantara yang diperintahnya. Kedewasaan, kelengkapan berargumentasi, berdebat dan transparansi dalam suatu kebijakan akan sangat tercermin dari tingkat penguasaan pengetahuan manusia yang berada di lembaga pemerintahan.


Dari cuplikan surat tersebut kita reback ke negara kita, Indonesia dan apa yang kita rasakan sekarang. Negara yang kita junjung tinggi ini sepertinya pemerintahan yang lebih banyak mengandalkan mekanisme kekuasaan, birokrasi yang bertele-tele, palak memalak, suap menyuap, gaya katak, gusur menggusur dan lain lainnya daripada bertumpu pada kemampuan sumber daya manusianya.


Padahal kunci keberhasilan dalam melakukan manuver melalui perang informasi sebetulnya tidak begitu banyak. Keberadaan massa sebagai sumber daya manusia berkualitas yang mampu memproduksi pengetahuan dan menyebarkannya ke publik melalui berbagai simpul simpul atau chanel yang dapat mereka akses akan menjadi kunci utamanya. Melalui dunia pendidikan, akan memperoreh sebuah sumber daya manusia berkualitas menjadi sangat kritical sekali dalam keberhasilan suatu perang informasi. Tentunya dengan keberadaan sebanyak mungkin dari simpul simpul atau chanel untuk menyebarkan informasi sangatlah telak. Dengan situasi Indonesia seperti saat ini, konsep media lokal, community broadcasting, community media yang sifatnya swadaya masyarakat menjadi penting artinya untuk suatu ketahanan nasional secara menyeluruh.


Tentunya, proses ketahanan nasional saat ini tidak lagi bertumpu pada aparatnya yang berbasis pada ideologi nasional seperti pada era orde baru, namun, era sekarang telah bergeser pada keberadaan massa dengan sumber daya manusia berkualitas yang difasilitasi oleh platfom media informasi untuk melakukan manover informasi dan pengetahuan secara cepat, akurat serta mudah di akses (Rs – 13).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar