Sabtu, 14 Agustus 2010

OPERASI ENTEBBE: PEMBEBASAN SANDERA PALING SPEKTAKULER?

Serbuan pasukan elite Israel beberapa puluh tahu yang yang lalu tepatnya di tahun 1976 mengisahkan pembebasan 257 penumpang Air France sebagai sandera di Entebe, Uganda yang paling dramatis dan telah menjadi kisah populer sampai sekarang. Dalam aksi terornya, melibatkan organisasi terororis kelas dunia saat itu, Popular Front the Liberation of Palistine ( PFLP), dan keterlibatannya Presiden atau sang diktator Uganda Idi Amin, membuat pembebasan ini bertambah seru. Entebe, sebuah bandara di negara Uganda dan sebagai negara pendukung pembajakan yang letaknya sekitar 370 Km dari negara Israel yang mayoritas para sandera berasal. Hal inilah yang menuat pasukan elite Israel geregetan untuk menyelesaikan pembebasannya.
Pada saat itu tepatnya tanggal, 27 Juni 1976 sedikitnya seratus warga Israel ikut dalam penerbangan liburan dari Tel Aviv menuju Athena dan menurut rencana penerbangan dilajutkan ke Paris. Di dalam penerbangannya, tak satupun penumpang yang menyaka bahwa diantara penumpang ada tiga pria dan satu wanita bersenjata telah mengalihkan arah liburan mereka.
Disaat menikmati penerbangannya, tiba-tiba seorang laki-laki mengeluarkan nada ancaman melalui intercom terhadap para penumpang, “Kami orang Palestina, jika kamu duduk tenang dan mengerjakan apa yang saya perintahkan, tak seorangpun akan disakiti. Namaku Ahmed el Kubesi, anggota komando Che Guevara Jalur Gaza, satu unit dibawah PFLP”. Demikian ancaman ini dikeluarkan saat pesawat jenis Airbus itu baru saja mengudara dari bandara Athena, persinggahan pertamanya setelah Tel Aviv. Ternyata satu dari pembajak sudah berdiri di belakang cockpit dengan pistol menempel di kepala kapten pilot. Pesawat tidak lagi mengarah ke Paris, namun menuju bandara Benghazi, Libya. Di Benghazi, pesawat mengadakan refuel dan menurunkan satu penumpang yang sedang hamil. Sembilan jam kemudian, pesawat terbang kembali melewati Mesir, Sudan, lalu mendarat di bandara Entebbe, Uganda. Drama besar baru saja dimulai.
Dengan kondisi demikian, Perdana menteri Yitzhak Rabin, juga menteri pertahanan Shimon Peres pada saat itu dibuat ketakutan dengan ancaman para pembajak yang menuntut dibebaskannya 53 pejuang Palestina yang ditawan Israel. Terlebih di Entebbe, sedikitnya seratus warga Yahudi Israel sedang menunggu proses eksekusi. Kesemuanya ini serba dilematis bagi Israel. Menolak berarti membiarkan warganya mati di tangan teroris. Mengabulkan tuntutan, nantinya akan terjadi ratusan bahkan ribuan kasus pembajakan seperti di Entebbe. Pemerintah Israel pada saat itu hanya punya waktu 4 hari dalam menetukan pilihannya antara melakukan operasi pembebasan atau membiarkan warganya mati dibantai. Israel meyakini, organisasi teroris internasional berada dibelakang drama tersebut.
Sebelum melakukan aksinya, kelompok teroris telah merancang dengan sangat rapi pada Minggu dini hari, 27 Juni 1976, saat tiga pria dan satu wanita bertemu di sebuah apartemen di Kuwait City. Dalam pembajakkannya, dipimpin seorang pengacara muda berkebangsaan Jerman, 28 tahun, yang jenius sekaligus teroris berbahaya, bernama Wilfred Boese. Orang ini sangat dekat hubungannya dengan teroris paling top saat itu, Carlos “The Jackal” Ramirez. Carlos sebagai penghubung antara Boese dengan PFLP pada tahun 1974. Kelompok pembajak tersebut terdiri dari, dua orang Palestina yang tinggal di Kuwait dan seorang gadis Jerman berusia 24 tahun, Gabrielle Kroecher Tiedemann. Gadis ini telah bergabung dengan teroris sejak masih belia sehingga tek heran lagi bila ia tumbuh menjadi wanita yang kejam dan berbahaya. Dekade 1976, Tiedemann mulai bergabung dengan PFLP dengan nama sandi Kalimiri. Keempat orang inilah yang direncanakan sebagai pelaksana aksi pembajakan Air France nomor penerbangan 139 dengan rute Tel Aviv-Athena-Paris. Adapun latihannya, mereka laksankan selama dua bulan secara keras, dan pada saat itu juga sebagai hari pembuktiannya mereka.
Dari apartemennya, mereka meluncur ke bandara dan terbang ke Athena. Dengan tiket kelas VIP yang sudah ada di tangan, Boese-Tiedemann yang telah tersembunyi dibalik wig barunya duduk-duduk di ruang tunggu internasional bandara Athena layaknya penumpang lainnya, untuk menunggu kadatangan pesawat nomor penerbangan 139 dari Tel Aviv. Sementara, kedua orang Palestina yang masing-masing telah membawa satu kaleng berisi dua pistol otomatis Czech 7.65 mm dan dua granat, masuk lewat ruang transfer penumpang agar terhindar dari pengecekan. Setelah meyakini bahwa kedua orang Palestina sudah ada di dalam, Boese dan Tiedemann pun menyusul. Selama didalam toilet ruang tranfer penumpang itulah, Boese menerima satu pistol dan Tiedemann menerima satu pistol dan dua granat. Kedua orang Palestina masih dengan satu kaleng berisi senjata yang tersisa. Dengan taktik jitu, loloslah mereka ke dalam pesawat yang mereka incar.

Sikap Idi Amin
Sekian jam penerbangan yang penuh ketegangan, akhirnya pesawat mendarat di bandara Entebbe, Uganda. Para penumpang yang masih harap-harap cemas, akhirnya agak sedikit lega melihat pintu pesawat telah terbuka dan mereka dipersilakan untuk keluar. Barisan pasukan Uganda yang berjaga-jaga dengan senjata otomatis juga membuat kepanikan mereka sedikit reda. Sehingga para penumpang berjalan dengan teratur menuju sebuah gedung tua yang berada di bandara Entebbe.
Namun betapa terkejutnya 257 penumpang tersebut saat melihat Boese dan grupnya keluar dari pesawat dengan tawa dan sorak gembira kepada para prajurit Uganda. Ternyata keberadaan prajurit itu bukan untuk membebaskan mereka. Melainkan para prajurit Uganda tersebut justeru mendukung gerakan Boese. Para sandera lebih yakin lagi, pada saat ditempatkan di dalam bangunan gedung tua, senjata-senjata otomatis prajurit Uganda diarahkan ke para penumpang. Sehingga para penumpang menyadari kalau dirinya setatusnya masih menjadi sandera bahkan tersandera oleh kekuatan yang lebih hebat.
Selang beberapa saat kemudian, sebuah helikopter VVIP mendarat di dekat bangunan tua tempat penumpang disekap. Turun dari Helikopter seorang pria berkulit hitam separoh baya berjalan keluar diikuti seorang bocah kecil berusia 4 tahun. Semua pasukan memberi penghormatan kebesaran kepada pria yang kemudian berjalan menuju ruangan sandera itu. Dengan pengawalan ketat, pria itu berkata dihadapan semua penumpang, “Kalian pasti tidak tahu nama saya. Tapi saya yakin kalian pernah mengenal dan mendengar nama saya. Saya adalah Marsekal Dr. Idi Amin, Presiden Republik Uganda.” Lalu ia memeluk semua penumpang dengan hangat, “Kalian tidak perlu khawatir. Saya akan memperlakukan kalian seperti seorang ayah. Saya akan melihat kalian dibebaskan dan saya adalah orang baik-baik.”
Sampai hari Selasa, semangat para sandera semakin menurun, walaupun Presiden Idi Amin sudah menjenguknya 2 kali dan memberi harapan baik. Para sandera semakin khawatir dengan nasibnya saat mereka mulai melihat banyak gerilyawan Palestina berkeliaran dengan bebas di sekitar mereka bersama prajurit Uganda. Diluar pengetahuan para sandera, para tokoh kunci dibelakang drama pembajakan itu memang sudah berada di Entebbe. Mereka adalah Antonio Degas Bouvier, Haj Feiz Gaber, dan Idi Amin sendiri. Sama seperti Boese, Bouvier adalah orang dekat Carlos “The Jackal”. Bouvier ikut terlibat dalam operasi penculikan di olimpiade Munich dan pembunuhan kepala hipermarket Mark & Spencer yang Yahudi, Edward Sieff. Sedangkan Gabier adalah salah satu tokoh berdirinya organisasi radikal PFLP. Operasi pembajakan ini dikendalikan dari Somalia oleh pimpinan PFLP, Dr Wahddie Haddad.
Mulai hari Rabu, 47 sandera yang disusulkan 101 sandera lainnya diterbangkan ke Paris atas keputusan para pembajak, menyambut janji positif pemerintah Israel yang memberi harapan untuk melepaskan beberapa tawanan. Selama negosiasi ini, ternyata para pembajak mau mengundurkan batas akhir tuntutan mereka sampai Minggu malam. Namun betapa terkejutnya Israel melihat kenyataan yang ada di Paris. Ternyata semua sandera yang dibebaskan oleh pembajak, tak satupun dari warga Yahudi Israel.

Maka meledaklah amarah para petinggi Israel. Sehingga keputusan operasi militer akan segera dimulai, karena Israel meyakini bahwa mereka sudah pasti tidak akan mengabulkan tawarannya.
Serbuan Udara Dimulai
Melesetnya negosiasi selanjutnya, Panglima AU Marsekal Beni Peled pada hari Rabu, memaparkan sebuah rencana penyerbuannya ke Entebbe bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Menurutnya, Entebbe hanya bisa ditundukkan dengan serangan kilat. Sehingga serbuan udara menjadi pilihan utama. Mereka akan menyusupkan pasukan ke Entebbe, mengambil para sandera, dan menerbangkannya ke Nairobi. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat akan terbang pulang ke Israel.
Dalam waktu singkat, Israel telah mengumpulkan pasukan elitnya di bawah komando Brigjen Dan Shomron. Sedangkan sebagai komandan pelaksana adalah Letkol Yonatan Netanyahu, yang akrab dipanggil Yoni. Yoni dan 180 anak buahnya hanya sempat berlatih sehari saja di gurun Sinai. Kebodohan yang pernah dibuat Idi Amin adalah menyuruh orang Israel untuk membangun bandara Entebbe dan ia cepat melupakannya. Sedangkan kebodohan pembajak adalah melepaskan beberapa sanderanya. Orang-orang itulah yang memberi keterangan inteljen yang lengkap tentang bandara Entebbe, termasuk dimana tempat tangki minyak, radar, posisi pasukan/pembajak, pesawat tempur dan saluran komunikasi. Pada hari Sabtu malam, tujuh hari setelah pembajakaan berlangsung, Operasi Entebbe pun dimulai.
Pada malam harinya, tiga buah C-130 menyusuri Laut Merah pada ketinggian rendah dan dalam formulasi dekat, sementara 20 km diatasnya rombongan pesawat tempur F-4 Phantom mengawalnya dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Phantom hanya mengawal sampai di perbatasan dan kembali karena daya jelajahnya tidak mampu untuk mencapai Entebbe.
Pada saat yang sama juga telah terbang dua pesawat Boeing 707 yang disamarkan menjadi penerbangan komersial ke Nairobi LY 167. Kedua pesawat tersebut terbang dalam formulasi dekat pada ketinggian 10 km, sehingga radar Mesir, Saudi Arabia, dan Ethiopia hanya mendeteksi satu pesawat yang melintas di area mereka. Pada kenyataannya ada dua pesawat berbadan lebar yang melintas. Pesawat pertama adalah LY 167 yang sebagai rumah sakit terbang Israel yang akan mendarat di Nairobi. Pesawat kedua adalah pesawat beregistrasi militer 4XBY8 dengan nama sandi LY 169, yang akan berfungsi sebagai pos komando dan pengendali operasi Entebbe dan akan melindungi ketiga Hercules saat pesawat Phantom kembali ke pangkalannya. Didalam LY 169 ada Marsekal Peled dan wakil panglima AB Jendral Yekuti Adam mengawasi situasi ketiga Hercules yang sedang menyusuri lembah-lembah di perbatasan Ethiopia dan Kenya. Mereka saling berkomunikasi pada suatu frekuensi radio yang sangat rahasia dan anti sadap.
Pesawat LY 169 memisahkan diri di atas wilayah Sudan dan masuk ke wilayah udara Uganda dengan nama African Airways Boeing 707. Mengapa di atas Sudan? Karena radar Sudan pun sudah dirusak oleh agen-agen Israel. Seakan-akan sedang mengalami kerusakan, pesawat memasuki wilayah udara Uganda. Pesawat sengaja dibiarkan nampak pada layar radar bandara Entebbe. Penerbang LY 169 lalu melapor ke tower Entebbe, “Pesawat saya sudah tidak bisa dikendalikan dan akan mendarat darurat di Entebbe.” Dan tiba-tiba pesawat Boeing itu bergerak turun dan menghilang dari layar radar bandara. Petugas tower menyangka bahwa pesawat itu sudah jatuh di sekitar Danau Victoria yang terletak di 5 km kepanjangan landasan.
Selanjutnya, mereka mencoba contack keluar namun saluran telpon sudah mati. Pada detik sebelumnya, agen Israel telah memutus saluran telpon bandara. Agen lainnya bersiap di jalan antara bandara menuju markas Angkatan Perang Uganda dengan detonator yang siap diledakkan. Apa yang terjadi dengan pesawat LY 169 yang akan menjadi pos komando tersebut? Ternyata mudah saja. Penerbang merubah kecepatan pesawat dari 200 knot ke 296 knot. Pada kecepatan ini, radar Uganda tidak akan mampu mendeteksi Boeing 707. Pesawat tidak jatuh ataupun mengalami kerusakan. Ia terbang turun, lalu naik lagi di ketinggian 10 km dan berputar mengawasi tiga Hercules yang telah muncul dari kegelapan lembah. Belum habis keterheranan 3 petugas tower, tiba-tiba mereka mendengar radio berbunyi, “Tower, ini adalah penerbangan no. 166 yang membawa tawanan perang dari Tel Aviv. Dapatkah saya mendapat ijin mendarat?” Suara ini berasal dari salah satu pesawat Hercules yang sudah berada 5 km diujung landasan.
Petugas tower itu dikejutkan saat melihat tiga pesawat besar telah mendarat di kegelapan landasan. Dua petugas berusaha mengeplot letak jatuhnya pesawat LY 169, satu petugas berusaha menelpon ke direktorat penerbangan sipil untuk menanyakan ijin ketiga pesawat yang sudah nyelonong masuk ke Entebbe. Yang menambah mereka heran adalah saat melihat bahwa tiga pesawat yang datang bukan pesawat sipil, namun pesawat gemuk yang disamarkan dalam warna militer.
Di dalam pesawat, Yoni berdiri tegak di pintu keluar memandang anak buahnya. Sebuah mercedes hitam dikawal dua land rover telah siap bergerak bersama-sama keluarnya pasukan. Mobil itu adalah mobil palsu Presiden Idi Amin, untuk mengelabui musuh.
Aksi di Sasaran
“Go!” teriak Yoni. Satu kendaraan land rover bergerak keluar diikuti mercedes, lalu land rover kedua. Kemudian, Ketiga mobil itu bergerak mendekat gedung tua bersama pasukan para yang dipimpin perwira muda berusia 30 tahun tersebut. Para pembajak dan pasukan Uganda tentunya sangat terkejut melihat Presiden datang malam-malam ke bandara dengan pesawat besar. “Bukankah Presiden sedang mengikuti konferensi di Mauritius?” tanya mereka dalam hati. Seorang pasukan Uganda mendekat ke mobil dan disambut dengan rentetan tembakan. Dia menjadi korban pertama dalam Operasi Entebbe.
Sesuai latihan yang hanya dilaksanakan pada hari Jum’at, pasukan hanya punya waktu 45 detik untuk mencapai ruangan para sandera. Latihan yang hanya sempat dilaksanakan itu terbayar sudah. Walaupun pasukan Uganda berusaha menghadang, pasukan Yoni yang menyerbu bagai air bah telah merangsek cepat. Melihat itu semua, Gabrielle Tiedemann meraih pistolnya dan membidik seorang prajurit yang sedang berlari di halaman gedung. Baru satu tembakan meletus, lusinan peluru telah menghunjam di badannya dari senapan otomatis pasukan Israel yang telah bermunculan. Wilfred Boese yang berada di dalam ruangan juga segera meraih senapan mesinnya setelah mendengar suara rentetan tembakan di luar gedung. Segera dia membidik para sandera. Saat jari-jemarinya siap menarik picu senapan, Boese sudah harus meregang nyawa oleh peluru pasukan Israel. Para sandera yang tidak tahu akan adanya operasi itu menjadi histeris. Untungnya, pasukan Israel langsung berteriak-teriak menggunakan bahasa Hebrew, “Kami akan membawamu pulang…!” berkali-kali teriakan terdengar.
Selain menyerbu gedung tua tempat sandera, dua unit pasukan dengan jeep bersenjata otomatis bergerak terpisah. Satu unit bergabung dengan agen Israel menutup jalan yang menghubungkan bandara ke markas angkatan perang Uganda. Unit yang lain menuju markas skadron Mig dan menanaminya dengan puluhan detonator. Dan sesaat kemudian terdengar suara ledakan dahsyat. Pesawat-pesawat Mig Uganda hancur berkeping-keping. Sebuah roket melesat cepat menghantam tower. Pasukan Uganda yang berhasil berkelompok terus mengadakan perlawanan sengit. Di atas gedung, sebuah granat meledak menyebabkan tewasnya 2 pembajak berkebangsaan Palestina. Mengelilingi ketiga Hercules, dokter-dokter bedah kelas satu bertiarap dengan senapan mesin. Selain mengevakuasi korban, merekapun mendapat tugas tambahan menjaga pesawat selama proses penyerbuan.
Setelah gedung tua dikuasai, Yoni terlihat bergerak keluar untuk melihat pasukannya. Tak ada yang menyangka sebuah senapan telah mengintipnya dari atas tower, “Ret…tet… tet… tet…” dan Yoni pun roboh. Peluru prajurit Uganda itu menembus punggungnya. Tim dokter yang ada di pesawat coba untuk menolongnya namun gagal. “Yoni tertembak !” teriakan itu menggema ke seluruh penjuru, ke pesawat pos komando yang terbang berputar di atas Entebbe, juga ke markas tertinggi di Israel. Namun demikian, operasi terus berlanjut. Pasukan Israel mengumpulkan semua sandera dan menghitungnya, 104 sandera dan 12 awak pesawat. Mereka semua digiring menuju pesawat dengan perlindungan barikade prajurit Israel.
Di seberang sana, di dalam pesawat Hercules ketiga, Brigjen Dan Shomron berusaha mengamankan pergerakan pasukan dan warga Israel menuju pesawat. Mereka sudah 53 menit berada di bandara Entebbe. Pasukan Uganda sudah kocar kacir. Beberapa prajurit Israel menghitung dan menghitung lagi jumlah sandera yang berhasil dibebaskan. Setelah jumlahnya lengkap, satu persatu dari tiga Hercules mulai bergerak meninggalkan Entebbe. Hercules terakhir adalah tempat Shomron berada. Saat pesawat terakhir ini bergerak ke landasan, moncong senapan mesin masih menyembul di pintu belakang pesawat yang sengaja di buka. Membuat pasukan Uganda takut untuk mendekat. Beberapa pasukan Uganda lari ke tower dan mematikan lampu landasan. Namun sia-sia juga usaha mereka. Lampu landasan memang mati, namun pesawat ketiga itupun mengangkasa meninggalkan Uganda menuju Nairobi, untuk kemudian meneruskan perjalanannya pulang ke Israel.
Di atas Danau Victoria, tiga buah Hercules sedang terbang rendah menuju Nairobi. Pada awalnya penerbang akan membuang mobil mercedes hitam Idi Amin palsu di danau ini. Namun mengingat besarnya jasa yang telah diberikan pada negara, mercedes hitam itu dibawa pulang ke Israel. Bukan untuk menjadi mobil palsu Idi Amin lagi, namun sebagai saksi sejarah. Di atas Laut Merah, dua skadron pesawat Phantom terbang bergerombol menyambut kedatangan 3 Hercules dan 2 Boeing-707 yang telah mencatat sejarah. Di bandara Ben Gurion, Tel Aviv, massa menyambut kedatangan para sandera dengan gegap gempita. Di hari Minggu tersebut, semua orang Yahudi serasa 10 senti lebih tinggi dari sehari sebelumnya. Dan pada hari yang sama, Idi Amin terbangun dengan sebuah kejutan paling dahsyat semasa kariernya (Rs – 113).

Selasa, 20 Juli 2010

PERGESERAN PERANG KONVENSIONAL

Dengan semakin berkembangnya teknologi, dunia perang ataupun sebuah lini pertempuran konvensional akan bergeser kepada lini peperangan atau pertempuran alternatif konvensional seperti perang informasi serta aksi teror.

Didalam perang konvensional, yang digunakan mesin mesin perangnya serta perlengkapan prajurit serta dukungan logistik. Di era perang informasi, bombardir- bombardi informasi akan membuat image yang dapat tertanam dikawasan lawan dan melemahkan posisi moril lawan. Tehnik-tehnik semacam ini sering kita istilahkan sebagai informasi imperalisme dalam strategi perang informasi.



Kita bukan mengingat mas lalu atas kekalahan Indonesia kepada Timor- Timur yang sekarang menjadi negara Timor Leste, minimal hal ini sebagai pembelajaran buat negara kita agar tidak menjadi keledai yang masuk dalam lubang yang sama beberapa kali. Dulunya Xanana pernah mendekam di dalam penjara, Cipinang, Jakarta sekarang menjadi perdana menteri yang sebelumnya menjadi Presiden Timor Leste. Kalau kita mempunyai rasa malu, pastinya sebagai warga negara Indonesia pasti merasa malu atau dipermalukan. Sebelum Timor Leste Merdeka, dalam waktu yang cukup lama negara Indonesia di bombardir informasi yang pada dasarnya membuat image bahwa Indonesia adalah tidak lebih daripada sebuah negara penjajah di Timor Timur.


Kalau melihat pengalaman tersebut, tehnik counter will dalam perang informasi banyak dimainkan secara cantik dan mulus oleh pihak barat melalui berbagai media massa, termasuk berbagai Web Site Internet yang menyebarkan propaganda secara sangat effisien ke semua orang yang bisa akses informasi. Disinilah, Presiden Indonesia saat itu Habibi salah perhitungan dan berani mengambil keputusan dengan melakukan jajak pendapat bagi rakyat Timor Timur dan bukannya jajak pendapat secara Nasional.


Di negara Indonesia, mungkin akan terjadi pada hal yang sama dengan kasus lepas Timor Timur dengan secara mudah terjadi di beberapa wilayah seperti Papua, Aceh dan lain-lainnya. Hal semacam ini, hanya mungkin akan dimenangkan jika dari pihak tertekan dapat memainkan perananannya secara cantik dan mulus di dunia informasi dengan mengandalkan permainan image.

Sementara seorang pemikir Cina, ‘SunTsu”, dalam bukunya The Art of War menuliskan, tidak ada yang istimewa dalam memenangkan ratusan pertempuran di dalam ratusan medan perang. Tetapi, mengalahkan musuh tanpa melepaskan peluru dan bersimbah darah itu baru istimewa. Hanya segelintir manusia yang mampu melakukan hal ini dengan baik. Hal yang sama dikatakan ahli strategi perang, Napoleon Bonapate, dirinya tidak takut dengan ribuan mesin perang melainkan yang ditakutkan hanyalah sebuah pena.


Strategi dibidang perang informasi, kini telah mulai dimainkan oleh negara-negara maju seperti Amerika, negara barat, Cina dan Jepang. Perang informasi yang mereka lakukan lebih bersifat psychological warfare (perang psychologi). Yang dapat berlangsung beberapa tahun sebelum perang fisik dilakukan dan inipun jika dibutuhkan, dan jika ternyata musuh dapat dikalahkan tanpa perang fisik maka segera menghindar dari terjadinya perang fisik. Cukup dengan psychological warfare.


Di era globalisasi, peluang perang informasi sangat terbuka lebar, intinya hanya mereka yang mampu memproduksi informasi serta pengetahuan dalam jumlah yang mewadahi di segala media dengan demikian akan mudah mengalahkan pihak lawan. Perang konvensional, invansi, penjajahan,dan serangan secara fisik kini tidak lagi digunakan, melainkan secara pcichologi, sudut pandang, mental dan lain-lain.


Contoh yang sederhana misalnya, anak-anak Indonesia akan mudah mengenal dan bangga bila makan di Mc Donald, KFC atau mendengarkan musik import dibandingkan dengan makan nasi pecel dan mendengarkan musik jaipong, gamelan atau musik dangdut. Anak baru gede (ABG) lebih senang menonton konsernya Madona dibandingkan menonton konsernya Ikke Nurjanah. Dari contoh sederhana ini saja sudah terlihat sekali bahwa sebuah image sudah tertanam baik baik di benak anak anak indonesia secara evolusi.


Kalau kita mau belajar pengusaan seni perang informasi yang sangat halus melalui cuplikan surat dari James Madison yang ditujukan kepada Barry pada Agustus 1822 berbunyi, pengetahuan dan penyebaran informasi menjadi penting sekali bagi seseorang maupun pemerintah untuk survive, menang dan tetap berada diatas serta populer diantara yang diperintahnya. Kedewasaan, kelengkapan berargumentasi, berdebat dan transparansi dalam suatu kebijakan akan sangat tercermin dari tingkat penguasaan pengetahuan manusia yang berada di lembaga pemerintahan.


Dari cuplikan surat tersebut kita reback ke negara kita, Indonesia dan apa yang kita rasakan sekarang. Negara yang kita junjung tinggi ini sepertinya pemerintahan yang lebih banyak mengandalkan mekanisme kekuasaan, birokrasi yang bertele-tele, palak memalak, suap menyuap, gaya katak, gusur menggusur dan lain lainnya daripada bertumpu pada kemampuan sumber daya manusianya.


Padahal kunci keberhasilan dalam melakukan manuver melalui perang informasi sebetulnya tidak begitu banyak. Keberadaan massa sebagai sumber daya manusia berkualitas yang mampu memproduksi pengetahuan dan menyebarkannya ke publik melalui berbagai simpul simpul atau chanel yang dapat mereka akses akan menjadi kunci utamanya. Melalui dunia pendidikan, akan memperoreh sebuah sumber daya manusia berkualitas menjadi sangat kritical sekali dalam keberhasilan suatu perang informasi. Tentunya dengan keberadaan sebanyak mungkin dari simpul simpul atau chanel untuk menyebarkan informasi sangatlah telak. Dengan situasi Indonesia seperti saat ini, konsep media lokal, community broadcasting, community media yang sifatnya swadaya masyarakat menjadi penting artinya untuk suatu ketahanan nasional secara menyeluruh.


Tentunya, proses ketahanan nasional saat ini tidak lagi bertumpu pada aparatnya yang berbasis pada ideologi nasional seperti pada era orde baru, namun, era sekarang telah bergeser pada keberadaan massa dengan sumber daya manusia berkualitas yang difasilitasi oleh platfom media informasi untuk melakukan manover informasi dan pengetahuan secara cepat, akurat serta mudah di akses (Rs – 13).

Kamis, 17 Juni 2010

DUBES JERMAN UNTUK LEBANON KUNJUNGI KONTINGEN INDONESIA





(Houla; 17 Juni 2010). Duta Besar Jerman untuk Lebanon Brigitta Maria Siefker Eberle didampingi Senior Member of Germany Foreigh Minister beberapa waktu lalu melakukan kunjungan kerja ke Kompi B Indobatt UN Position 8-33 ‘Syeikh Abbad Tomb’ di desa Houla, Lebanon Selatan.


Dalam kunjungannya, Dubes Jerman dan rombongan disambut Komandan Kompi B Kapten Inf Syafruddin dan Kapten Kav Arief Cahyo Widodo (Wakil Komandan Kompi) beserta seluruh Perwira kontingen Indonesia.


Dihadapan tamunya, Kapten Syafrudin memaparkan tentang situasi dan kondisi terakhir disekitar “Blue Line”. Dimana posisi UN Posn 8-33, suatu posisi yang berbatasan langsung dengan wilayah negara Israel. Selain itu, wilayah tersebut hanya dibatasi dan dilindungi oleh “Technical Fence”. Terlebih juga, wilayahnya terdapat suatu makam bersejarah penting serta menjadi “Hot Spot” di Lebanon, yaitu Makam Syeikh Abbad atau lebih dikenal dengan nama Syeikh Abbad Tomb.


Kapten Syafrudin menegaskan, di lingkungan sekitar compound (kesatriaan) Kompi B Indobatt ini, masih banyak terdapat ranjau-ranjau sisa perang hebat yang pecah tahun 2006. Ranjau-ranjau ini tersebar secara acak dan tidak diketahui persis kedudukannya. Jika diamati pada peta UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon), maka sepanjang garis blue-line di Area Operation Indobatt dipenuhi dengan titik-titik merah yang menandakan banyaknya ranjau yang tersebar seperti ranjau anti personel dan ranjau anti tank.


Dikatakannya, “Jika mendengar bunyi ledakan yang hebat, itu berarti baru saja ditemukan ranjau dan diledakkan oleh tim pembersih ranjau MAG (Mines Advisory Group for Lebanon). Proses de-mining oleh Tim MAG ini merupakan suatu rangkaian upaya kerja UNIFIL dalam mengemban amanah PBB yakni pembuatan/ marking line. Untuk membuat suatu tanda patok Blue Line pada batas-batas wilayah yang sudah ditentukan, yaitu batas wilayah antara Israel dan Lebanon”.


Sebelum mengakhiri kunjungannya, Dubes Jerman beserta rombongan tesebut, melakukan kkunjungan Project Officer dari UNIFIL Headquarter UN Posn 4-7C dari kota Naqoura dan menyempatkan diri untuk melihat secara dekat atas keberadaan makam Syeikh Abbad Tomb.


Tempat tersebut menjadi daya tarik tersendiri, dimana banyak masyarakat dari maca negara untuk datang dengan dalih berziarah. Yang menjadi perhatian dunia, letak makam terbagi menjadi dua bagian, sedangkan ukuran makamnya hanya 1 kali 2,5 meter. Sisi sebelah kanan termasuk wilayah Israel , sedangkan sisi sebelah kiri termasuk wilayah Lebanon .


Sementara Menurut kepercayaan masyarakat Lebanon, makam ini adalah tempat seorang tokoh agama Lebanon yang sangat berpengaruh pada abad ke-15 yakni Syeikh Abbad. Sedangkan menurut masyarakat Israel , makam ini adalah tempat berbaringnya seorang tokoh agama terkenal yakni Rabi Ashi yang hidup pada abad ke-lima (rstmopm).

Senin, 14 Juni 2010

DEPUTY FORCE COMMANDER UNIFIL KUNJUNGI BASE CAMP INDONESIA

( S M - Naqoura , Lebanon). Deputy Force Commander (DFC) UNIFIL yang baru Brigjen Santi Bofanti yang berasal dari Italia kemarin Minggu ( 13/6) melakukan kunjungan resmi base camp Indonesia.


Base Indonesia yang dikunjungi, Base Camp Sudirman sebagai area Perkantoran serta Markas Satgas Indo Force Headquarter Support Unit (FHQSU) Konga XXVI-B1 dan Satgas Indo Force Protection Company (FPC) Konga XXVI-B2, yang bertempat Naqoura Lebanon Selatan.


Dalam kunjungannya, diterima langsung oleh Dansatgas Indo FHQSU Kolonel Inf Restu Widiyantoro, Dansatgas 1st Indo FPC Letkol Inf Fulad serta Dansatgas 2nd Indo FPC Kapten Inf Imam Wicaksono.



Kunjungan pejabat nomor dua di UNIFIL kali ini, merupakan yang pertama kali semenjak Brigjen Santi Bofanti menjabat sebagai DFC United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), yang merupakan suatu kewajiban beliau untuk melihat secara langsung pasukan-pasukan atau kontingen-kontingen Negara yang dipimpinnya.


Adapun tujuan dari kunjungan, untuk menginspeksi kesiapan operasional serta adaptasi pelaksanaan tugas berdasarkan perintah-perintah dari Komando Tertinggi UNIFIL.


Selama kunjungan, dirinya menerima paparan seputar tugas pokok organisasi dan kekuatan personil Indo yang disampaikan Kolonel Inf Restu Widiyantoro selaku Dansatgas Indo FHQSU. Usai menerima paparan, melanjutkan kunjungan di Markas Satgas Indo FHQSU dan Satgas Indo FPC yang berada di New Land , Naqoura. Dalam kunjungannya di base camp, dirinya menerima jajar kehormatan DFC dan disambut langsung Dansatgas Indo FPC Letkol Inf Fulad serta para Perwira Satgas.


Selanjutnya, Brigjen Santi Bofanti melihat dan melaksanakan kunjungan ke lapangan untuk memeriksa kondisi Alutsista berupa Ranpur VAB serta “ANOA” yang saat ini menjadi tumpuan utama Satgas Indo FPC untuk mengamankan wilayah tanggung jawab pengamanan Markas Besar UNIFIL. Setelah melihat kondisi keseluruhan kesiapan kendaraan ringan dan kendaraan tempur tersebut, DFC juga menyempatkan diri meninjau langsung barak atau tempat tinggal para prajurit Garuda serta langsung memasukinya.


Brigjen Santi Bofanti merasa puas dengan kelengkapan dan kesiapan Konga XXVI-B1 dan B2, karena sesuai dengan hasil inspeksi yang dilakukan oleh Tim dari UNIFIL bahwa Kontingen Indo FHQSU dan Indo FPC siap untuk operasional. Dengan kesiapan dan profesionalisme yang dimiliki ini, Deputy Force Commander memiliki keyakinan bahwa tugas-tugas pertahanan dan Keamanan Markas Besar UNIFIL dapat diemban dengan baik. DFC mengucapkan apresiasi yang tinggi atas kerja dan peran Satgas Indo FHQSU serta 1st dan 2nd Indo FPC yang telah memberikan pengaruh sangat signifikan terhadap pertahanan, keamanan, ketertiban serta manajemen “Camp” di lingkungan Markas Besar UNIFIL.


Diakhir kunjungan yang paling menarik, sebelum melakukan foto berasama dengan seluruh Perwira Satgas Indo FHQSU dan Satgas Indo FPC, tiba-tiba dirinya meneriakkan kata-kata “Garuda” dengan lantang serta fasih yang ditujukan untuk menambah semangat para prajurit TNI. Selanjutnya acara diakhiri dengan mengunjungi monumen Garuda/Garuda Cenothape yang berada di areal depan Sudirman Camp dan merupakan hasil karya prajurit Satgas Konga (RST 113).

PASUKAN TNI HIBUR PELAJAR LEBANON

(S – M ) - Pasukan TNI Satuan tugas batalyon mekanis yang saat ini bertugas pemeliharaan perdamaian PBB di Lebanon beberapa hari yang lalu, Rabu (9/6) menghibur anak pelajar Lebanon.

Satuan tugas batalyon mekanis, Kontingen Garuda XXIII - D dalam hiburannya, menampilkan kesenian Indonesia seperti, Angklung, tarian kuda lumping. Hiburan tersebut ditujukan atas perayaan kelulusan sekolan Internasional Al Mayadeen di kota Tyre tepatnya di daerah Al Bazourieh, Lebanon Selatan.


Sebelum acara kesenian dibuka, terlebih dahulu dikumandangkan sebuah lagu kebangsaan Lebanon yang dimainkan oleh Tim Kesenian Angklung Indobatt. Selain itu para pelajar setempat ikut menghibur dengan menampilkan tarian ”Daddy Cool” Dance yang sangat aktraktif dan Grade One dengan Belly Dance-nya yang sangat memukau.


Kehadiran penampilan tarian Kuda Lumping Indobatt, para pelajar terlihat kagum atas kesenian Indonesia tersebut. Gerakan demi gerak dari tari kuda lumping yang dimainkan oleh para lelaki ini mendapat perhatian dari para penonton yang mayoritas anak pelajar. Terlebih lagi, tarian semacam ini belum pernah diketahui oleh banyak masyarakat setempat.


Dengan tampilnya kesenian Indonesia yang disajikan Indobatt tersebut, tidak disadari atas terjalinnya kedekatan yang akrab diantara Indobatt dan generasi muda Lebanon. Terlebih acara ini diselingi dengan Pop quis dari Indobatt dengan sejumlah pertanyaan yang menarik minat dan bakat anak-anak akan misi perdamaian dan sekilas pengenalan tentang Indonesia. Adapun hadiah yang ditaburkan, berupa souvenir dari Indonesia.


Disela sela acara, Dansatgas Letkol Inf Andi Perdana Kahar mengatakan, Indobatt mendedikasikan diri untuk mencapai tujuan PBB salah satunya dengan kegiatan CIMIC ini. Berbuat yang terbaik untuk mendukung masyarakat lokal Lebanon Selatan untuk pulih dari penderitaan akibat perang. ”Memperlakukan penduduk lokal dengan rasa hormat, ramah-tamah dan penuh pertimbangan. Keberadaan kami di daerah misi ini adalah sebagai seorang tamu untuk membantu masyarakat setempat”, jelas Komandan Indobatt.

Ikut hadir pada acara tersebut, diantaranya, guru pengajar dan seluruh siswa-siswi yang akan naik ke tingkatan kelas yang lebih tinggi atau Elementary Circle. Sedangkan kenaikan kelas yang lebih tinggi, kemungkinan akan terlaksana pada bulan September. Hal ini mengingat adanya Ibadah bulan puasa pada bulan Agustus. Pada Saat ini, dilaporkan di Lebanon memasuki liburan musim panas yang bertepatan dengan saat kenaikan kelas atau kelulusan sekolah.


Di akhir penghujung acara, ditandai dengan pertukaran cendera mata diantara kedua komunitas, Indobatt – Pelajar Lebanon (rst - 113).


Selasa, 08 Juni 2010

KONGA XXIII – D LAKUKAN PEMANTAUAN DAERAH OPERASI DI LEBANON SELATAN

(S M 8/6) - Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) yang lebih dikenal dengan sebutan Indobatt (Indonesian Battalion) siap melaksanakan tugas sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian di wilayah Lebanon Selatan sesuai dengan Resolusi DK PBB No 1701. Salah satu tugas pokok yang tercantum dalam Resolusi tersebut adalah memastikan dan mengawasi pelaksanaan penghentian permusuhan antar pihak-pihak yang bertikai.

Guna mengawasi pelaksanaan penghentian permusuhan tersebut, Indobatt melaksanakan kegiatan operasional berupa patroli Observation Post (OP) dan Check Point (CP), baik yang dilaksanakan sendiri maupun bersama dengan Lebanese Armed Forces (LAF). Di wilayah yang menjadi tanggung jawab Indobatt (Area of Operation), kegiatan operasional tersebut dilaksanakan oleh kompi-kompi yang adalah sebagai ujung tombak perjuangan Indobatt dalam misi perdamaian di Lebanon Selatan.

Dalam wawancaranya dengan Pen Satgas, Komandan Satgas Batalyon Mekanis XXIII-D/UNIFIL Letkol Inf Andi Perdana Kahar dengan didampingi Kepala Staf Operasi Indobatt Kapten Inf Arfan Johan menjelaskan panjang-lebar bagaimana kiprah pengabdian Indobatt dalam mengemban amanah PBB ini. Sesuai dengan rute dan Check point yang telah ditentukan dalam Area of Operation masing-masing kompi, tim patroli Indobatt senantiasa memantau perkembangan situasi yang terjadi dan kemudian melaporkan hal-hal menonjol kepada Sector East UNIFIL selaku satuan komando atas.

Selanjutnya Dansatgas mengatakan, kegiatan patroli, Check Point maupun OP ini dilaksanakan oleh satu regu berkekuatan sepuluh sampai dengan dua belas personel dipimpin oleh satu orang pejabat Komandan Regu. Dengan dilengkapi perlengkapan sesuai dengan program tetap yakni senjata, rompi, helm dan goggle, termasuk peta, kompas, teropong, GPS, alat komunikasi serta alat pengambilan dokumentasi apabila terjadi hal-hal yang memerlukan pembuktian untuk pelaporannya ke tingkat lebih atas. Patroli selalu menggunakan dua kendaraan tempur (VAB) yang dilengkapi dengan bendera United Nations sebagai identitas Pasukan Perdamaian PBB.

“Intensitas jumlah patroli yang dilaksanakan oleh kompi-kompi ini disesuaikan dengan tingkat level status atau tingkat kesiapsiagaan yang berlaku. Hal ini berpengaruh terhadap peningkatan jumlah patroli yang akan tergelar, sekaligus menunjukkan tingkat kerawanan yang terjadi di area operasi”, ujar Letkol Inf Andi Perdana Kahar lulusan Akmil tahun 1992 ini.

Selain patroli rutin yang dilaksanakan sendiri oleh kompi dalam bentuk Batallion Patrol (BAP), Patrol Around Position (PAP) dan Area Domination Patrol (ADP), terdapat pula patroli gabungan yang dilaksanakan bersama LAF dalam bentuk patroli Counter Rocket Launching Operation (CRLO). Dengan menggunakan kendaraan ringan dalam rangka mencegah terjadinya peluncuran roket di area operasi, sekaligus untuk meningkatkan kerjasama dalam kegiatan patroli antara UNIFIL, dalam hal ini Indobatt dengan LAF.

Ada juga kegiatan Random Check Point (RmCP) yang dilaksanakan secara acak bersama LAF dan SEMPU (Sector East Military Police Unit). Guna memantau tingkat kedisiplinan pasukan UNIFIL di daerah operasi dengan mengadakan pengecekan kelengkapan pergerakan personel dan kendaraan PBB. Yakni Kartu Identitas PBB, Surat Ijin Mengemudi dan surat ijin keluar kesatriaan dengan dilengkapi identitas kendaraan yang melaksanakan pergerakan.

Menambahkan hal tersebut di atas, Kepala Staf Operasi Indobatt Kapten Inf Arfan Johan menjelaskan, kegiatan operasional ini dilaksanakan secara rutin dan terjadwal selama 24 jam dengan durasi waktu 4 jam setiap patroli. Dilaksanakan oleh kompi-kompi dan dilaporkan secara berjenjang kepada Tactical Operation Center (TOC) Batalyon dan Sector East.

“Disamping kegiatan patroli yang dilaksanakan secara rutin, Indobatt juga memiliki 23 buah Observation Post (OP) atau pos pengamatan yang berada di dalam dan di luar pos/kesatriaan. Dari ke dua puluh tiga pos pengamatan tersebut, sembilan pos diantaranya terdapat di luar compound. Dan secara keseluruhan juga dilaksanakan oleh pasukan di garis depan guna memonitor perkembangan situasi di titik-titik rawan yang perlu diwaspadai. Hal ini terutama dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya kegiatan ilegal yang dilaksanakan oleh kedua belah pihak yang bertikai dan dapat mengganggu stabilitas di wilayah Indobatt”, ujar Kapten Inf Arfan Johan yang berasal dari kesatuan Yonif 323/Raider Kostrad ini.

Lebih lanjut dikatakan, kesembilan OP yang berada diluar compound (pos/kesatriaan) Indobatt terdiri dari 5 buah Temporary Observation Post (TmOP) atau Pos Sementara yang dilaksanakan dari jam 09.00 pagi sampai dengan 19 sore dan 4 buah Permanent Observation Post (PmOP) dan dilaksanakan selama 24 jam.

Untuk menghadapi situasi darurat, terdapat pasukan cadangan yang selalu siaga 1x 24 jam di Markas Batalyon dan pada setiap kompi. Dengan kekuatan satu regu dan dikenal dengan istilah Batallion Mobile Reserves (BMR). Unit cadangan tersebut siap bergerak dalam waktu kurang dari 15 menit menuju sasaran, dalam rangka mengatasi insiden atau perkembangan situasi yang memerlukan bantuan dari pasukan siaga.

Sedangkan, menurut penuturan salah satu anggota patroli dari Kompi C, saat ditemui di lapangan. Dikatakan bahwa kesulitan yang ditemui saat melaksanakan kegiatan operasional terutama patroli adalah sempitnya jalan yang dilalui. Rute patroli dibandingkan dengan penggunaan Ranpur yang melewati pemukiman masyarakat. Sehingga diperlukan faktor kehati-hatian agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Lebih dari itu, masih terdapat rute-rute yang belum sepenuhnya bersih dari ranjau (UXO) dan sangat perlu diwaspadai.

Seluruh kegiatan operasional Indobatt dilaksanakan dengan berpedoman kepada ketentuan–ketentuan dan aturan yang berlaku di UNIFIL, antara lain Standardized Operating Procedures (SOP) dan Rules Of Engangement (ROE) sebagai pasukan pemelihara perdamaian yang profesional dan bermartabat. Demikian disampaikan Kasi Ops Indobatt lulusan Akmil tahun 2000 ini mengakhiri perbincangannya dengan Pen Satgas Indobatt (rst 113).

Kamis, 03 Juni 2010

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMANDAN TIM PATROLI INDOBATT

(S M 3/6) - Komandan tim patroli memegang peranan penting dalam melaksanakan tugas operasi pemeliharaan perdamaian, antara lain pada saat pergerakan patroli menyusuri jalanan sepanjang Blue Line serta pengawasan dan pengamatan pada saat berada di Observation Post (OP). Demikian dikatakan Komandan Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL (Indonesian Battalion/Indobatt) Letkol Inf Andi Perdana Kahar pada saat acara pembukaan Apel pejabat Dantim Indobatt, kemarin di Lapangan Upacara Soekarno-Base UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr. Kegiatan Apel Dantim Indobatt tersebut berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 2 s/d 3 Juni 2010.

Lebih lanjut, Komandan Indobatt juga menyampaikan harapan bagi seluruh peserta apel untuk secara serius mengikuti rangkaian kegiatan yang akan digelar dalam Apel Dantim tersebut. Hal ini bertujuan agar setiap pejabat Dantim di jajaran Indobatt akan dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas kemampuan serta keterampilannya, guna mendukung kelancaran dan keberhasilan tugas di daerah Lebanon Selatan ini. Kualitas kemampuan dan keterampilan yang dimaksud tersebut, tentunya, harus sesuai dan sejalan dengan Standard Operating Procedures (SOP) yang berlaku di jajaran UNIFIL.

Terkait dengan petunjuk dan arahan Komandan Indobatt tersebut, maka pada kesempatan awal kegiatan Apel Dantim, Kapten Kav Makhdum, selaku Koordinator Materi Patroli, mengingatkan kembali tentang tujuan serta beberapa hal penting terkait dengan SOP Patroli UNIFIL. Menurut pejabat Wadan Kimek A tersebut, bahwa pelaksanaan kegiatan patroli dalam operasi pemeliharaan perdamaian harus selalu memperhatikan perubahan situasi yang setiap saat dapat terjadi, serta selalu mengedepankan dukungan terhadap kegiatan kemanusiaan bagi masyarakat setempat dimana kegiatan patroli tersebut berlangsung. Dengan penjabaran seperti itu, maka setiap pejabat Komandan Tim Patroli wajib meningkatkan kesiapsiagaan serta kewaspadaannya dalam memimpin kegiatan patroli, sehingga pengambilan keputusan di lapangan akan sesuai dengan SOP yang berlaku.

Sementara itu, menurut Koordinator Umum Kapten Inf Arfan Johan, kegiatan tersebut terbagi menjadi tiga macam kegiatan yaitu pembekalan teori, diskusi dan praktek langsung di lapangan. Lebih lanjut ditegaskan oleh pejabat Kasi Operasi Indobatt tersebut bahwa kegiatan apel pejabat Dantim tersebut akan diselenggarakan secara periodik dan bergantian bagi setiap pejabat Dantim oleh Indobatt sebagai latihan dalam satuan. Hal ini sengaja dilakukan demikian mengingat padatnya waktu operasional operasi pemeliharaan perdamaian yang menuntut kehadiran setiap pejabat Dantim di tengah-tengah anak buahnya dalam melaksanakan tugas operasi. Tuntutan seperti ini bukan saja berlaku bagi Indobatt semata, namun juga berlaku bagi seluruh satuan yang berada dibawah komando UNIFIL. Dengan demikian, kemampuan dan keterampilan para pejabat Dantim di jajaran Indobatt harus selalu dipelihara dan ditingkatkan (rstm113).