Oleh Andi Perdana Kahar
“Acap kali ku pandang rangkaian kata mutiara “Beginning with smile for peaceful Lebanon” yang menghiasi indahnya Taman Air Garuda, teringat diriku akan setiap tamu dan pengunjung compound Adshit Al Qusayr yang langsung tersenyum damai seraya memandang tulisan itu. Di saat yang sama, ingatanku juga mengarah pada motto Garuda UNIFIL yakni “How to win the heart and the mind of the Lebanese”. Dan di hari ini kebanggaanku semakin memuncak ketika beberapa warga kota Zahlah meneriakkan kata “GARUDA” kepada rombongan Perwira UNIFIL, termasuk diriku di dalamnya, dengan komposisi mayoritas berasal dari negara Eropa yang tengah menikmati perjalanan TOUR LAF dan secara serempak membalasnya dengan salam yang sama, “GARUDA”.
Cuplikan di atas adalah sepenggal catatan yang tertulis dalam buku harian seorang perwira TNI yang sedang mengemban tugas menjalankan misi perdamaian PBB di Libanon, di bawah naungan UNIFIL (United Nations Interim Force In Libanon).
Sebegitu besarkah pengaruh kata yang menjadi salam para peacekeeper asal Indonesia ini? Hal apa yang membuat nama lambang negara tercinta Indonesia ini menjadi begitu kesohor di negeri Kahlil Gibran ini? Artikel ini akan mengantar para pembaca mengenal lebih dekat, pengabdian para anak bangsa yang tengah mengemban misi negara untuk ikut serta memelihara ketertiban dunia, nun jauh di sana , di Libanon.
Perang 34 hari pada tahun 2006 telah mengantar PBB mengeluarkan Resolusi nomer 1701 yang melatari pengiriman pasukan perdamaian Indonesia dengan nama sandi Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII. Sebelumnya telah terjadi 3 kali rotasi penggantian pasukan Indonesia , sehingga kontingen yang sedang menjalankan misi saat ini dinamakan Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL (Indonesian Battalion).
Tingginya apresiasi yang diberikan kepada kontingen Indonesia memungkinkan Indonesia menambah jumlah kekuatan peacekeeper di Libanon, sehingga pada penghujung tahun 2009, Indonesian Battalion (Indobatt) mendapat penebalan pasukan, semula terdiri dari 4 Kompi Mekanis dan 1 Kompi Pendukung, menjadi 5 Kompi Mekanis dan 1 Kompi Pendukung serta penambahan awak dan teknisi ranpur sebanyak 18 orang, sehingga akumulasi prajurit Indobatt saat ini berjumlah 1018 orang.
INDOBATT sebagai Peacekeeper
Selain ketiga formula tersebut, berbagai program pemulihan rasa trauma pasca perang menjadi jurus lain kontingen Indonesia dalam memenangkan hati dan fikiran masyarakat Libanon. Di lingkungan misi PBB dimanapun berada, aktifitas pemulihan tersebut termuat dalam sebuah program kerja bernama CIMIC (Civil Military Coordination) atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan istilah Pembinaan Teritorial. Program-program tersebut diantaranya pemberian pelatihan keterampilan terapan seperti perbengkelan, pendidikan komputer bagi anak usia sekolah bahkan bagi ibu rumah tangga, medical assistance dan nursing, kerja bakti pembersihan lingkungan bersama masyarakat atau hanya sekedar membantu sebuah mobil masyarakat yang terkepung oleh hujan salju. Indobatt lebih mengedapankan sentuhan kemanusiaan secara langsung daripada program–program pembangunan yang bernilai ratusan atau bahkan ribuan dolar. Mungkin hal ini pula yang membedakannya dengan program Cimic yang banyak dikembangkan oleh kontingen negara lain. Satu-satunya program Cimic yang cukup bernilai ekonomi hanyalah Smart Car, wahana multimedia keliling sumbangan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007 serta Mobile Library hasil kreasi Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-D pada tahun 2009 untuk memelihara minat baca para prajurit. Selebihnya adalah kegiatan-kegiatan kreatif ringan biaya namun menyentuh sisi kemanusiaan rakyat Libanon. Mungkin hanya Indobatt yang mengunjungi rumah seorang gadis miskin dan lumpuh, dengan membawakan sekotak coklat dan sebatang lilin, kemudian merayakan ulang tahun gadis tersebut bersama prajurit Indobatt. Setelah itu, hanya tangis haru keluarga Maryam (nama gadis lumpuh tersebut) yang kemudian terbang menjadi buah cerita dari mulut ke mulut dan melambungkan citra positif Indonesia di tengah-tengah masyarakat Desa Deir Sirian Libanon.
Sebagai Duta Budaya Indonesia
Tidak hanya angklung, beberapa seni budaya Indonesia juga kerap menjadi penampilan yang menarik baik bagi masyarakat Libanon, maupun bagi kontingen negara lain ketika berkunjung ke Markas Indobatt di Adshit Al Qusayr Libanon Selatan, atau pada acara- acara penampilan seni budaya Indonesia. Rampak Gendang, Tari Saman, Marawis, Kuda Lumping dan Tari Kecak kerap sekali menjadi sajian yang menarik pada berbagai event budaya. Hal yang paling membanggakan, seluruh seni budaya tradisional Indonesia tersebut, dilakukan oleh prajurit GARUDA. Ketika seni budaya tersebut ditampilkan pada acara malam resepsi budaya Indonesia di akhir masa jabatan Dubes Indonesia untuk Libanon, Bapak Bagas Hapsoro, Martine Andraos selaku Miss Libanon memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penampilan Tari Kecak persembahan Indobatt. Terlebih saat tim kesenian Indobatt berupa Tari Sisingaan - Kuda Lumping dan Tari Saman diturunkan pada saat kegiatan kampanye kebudayaan Grand Launching Indonesia dengan tema “Let’s Enjoy the Alluring Indonesia” yang diselenggarakan di UNESCO Palace Beirut tanggal 30 April 2010, tidak henti-hentinya para penonton memberikan tepukan kagum, bahkan terlihat anak-anak ikut menepuk-nepuk pundak dan paha mereka ketika irama gerakan semakin cepat dan kompak.
Selain seni dalam bentuk musik, lagu dan tari, tampilan Markas Indobatt juga merupakan suatu promosi budaya Indonesia. Ketika seseorang datang berkunjung ke Markas Indobatt di Adshit Al Qusayr, orang tersebut telah diajak untuk lebih mengenal Indonesia. Sejak sang tamu memasuki pintu gerbang Markas Indobatt yang mengesankan budaya Minang dipadu dengan Gunungan khas Jawa, dilanjutkan dengan tampilan Lukisan Gatotkaca dan Garuda Wisnu Kencana yang menempel pada dinding ruang makan. Seluruhnya ini merupakan kreasi prajurit Indonesia, sebagai wujud cinta tanah air dan upaya untuk lebih mengenalkan nama dan budaya Indonesia. Prajurit Kepala Putut Setiawan, salah satu prajurit Indobatt yang aktif menuangkan karya seni khas Indonesia, memiliki pemikiran “setidaknya kerinduanku terhadap keluarga di tanah air dapat terobati ketika aku merasakan nuansa Indonesia di negeri orang ini”. Namun terlepas dari semua alasan itu, tampilan compound yang Indonesia banget adalah sebuah promosi budaya yang seakan mengajak orang untuk mengunjungi negeri tercinta Indonesia.
Prajurit Profesional
Demikian juga pada berbagai pertandingan olahraga yang digelar antar kontingen, baik olahraga kemiliteran maupun beberapa cabang olahraga umum, Indobatt selalu berhasil memposisikan diri pada posisi terhormat. Adalah sebuah kebanggaan tersendiri ketika Indobatt berhasil menyapu bersih predikat juara pada lomba menembak pistol dan senapan yang digelar antar kontingen militer di Sektor Timur UNIFIL. Predikat juara, baik juara pertama, kedua maupun ketiga, yang berhasil diraih oleh prajurit Garuda pada momen tersebut meliputi seluruh nomer perorangan, beregu dan eksekutif para pejabat komandan.
Sebagai wujud kesetaraan, Indobatt tak pernah ragu melakukan berbagai kegiatan latihan bersama dengan kontingen negara lain. Salah satunya QRF (Quick Reaction Force) pasukan reaksi cepat UNIFIL yang saat ini dipercayakan kepada negara Perancis, pernah menjalin kerjasama dan melaksanakan latihan bersama. Demikian juga latihan komunikasi terintegrasi, Mobile Command Post bersama Komando Sektor Timur UNIFIL yang dinominasi oleh personel dari negara Spanyol, menjadi salah satu bentuk rasa percaya diri prajurit Garuda untuk mensejajarkan diri dengan negara- negara yang sudah dianggap maju dalam hal kemiliteran. Kerjasama dan latihan yang dilaksanakan memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga bagi Prajurit TNI untuk meningkatkan profesionalisme diri sebagai prajurit militer.
Pengakuan atas profesionalisme Prajurit TNI juga dapat dilihat melalui penunjukan salah satu kompi mekanis Indobatt sebagai Kompi Pengawal Markas Besar UNIFIL di Naqoura (Force Protection Company). Dengan kata lain, UNIFIL telah mempercayakan keamanan dan keselamatan Force Commander sebagai Head of the Mission in Lebanon (Panglima UNIFIL, saat ini dijabat seorang Mayor Jenderal berkebangsaan Spanyol) serta petinggi–petinggi UNIFIL lainnya, termasuk aset dan perkantoran yang berada di Markas Besar UNIFlL Naqoura kepada prajurit Indonesia. Rasa kebanggaan itu semakin tebal dengan kehadiran 13 kendaraan tempur jenis APC dengan nama “ANOA” buatan PT PINDAD Indonesia dalam melengkapi alutsista Indobatt selama melaksanakan tugas. Setidaknya Prajurit Indonesia akan semakin percaya diri dan mampu menegakkan kepala bergaul bersama pasukan dari negara-negara maju lainnya, sambil berkata, “Ini adalah ANOA, panser buatan negeriku, Indonesia”.
Pada akhirnya, semangat untuk mengibarkan Sang Merah Putih di negeri Libanon dengan landasan komitmen menjaga netralitas Indonesia di tengah pihak-pihak yang sedang bertikai merupakan dasar atas segala upaya yang telah dilakukan. Kolaborasi semangat dan komitmen yang luhur tersebut juga dilapisi hasrat hati untuk lebih memperkenalkan warisan budaya dan karakter Bangsa Indonesia yang mampu memenangkan hati dan pikiran masyarakat setempat. Hal ini jua alasan mengapa timbul rasa kebanggan yang memuncak sebagaimana tertulis dalam secarik catatan yang disebutkan di atas. **********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar